Kisah Abu Hanifah Berdebat Dengan Raja yang Ateis

Assalamualaikum sobat rohis, kali ini kita akan share kisah seorang imam besar yaitu Imam Abu Hanifah atau lebih dikenal Imam Hanafi. Beliau adalah pendiri mazhab Hanafi yang sampai sekarang masih banyak penganutnya didataran Timur Tengah, Mesir dan Saudi. Kisah Abu Hanifah ini adalah jawaban bagi kita yang masih berfikir tentang keberadaan Tuhan.

Kisah ini disadur dari kitab Fathul Majid karangan ulama besar Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani. Kisah ini begitu menarik buat saya karena imam hanafi dapat dengan mudah menggambarkan dan menjelaskan keberadaan Tuhan.

Berikut ceritanya yang sudah di edit agar mudah dibaca:


Pengarang kitab (Syekh Nawawi Al-Bantani) pernah menceritakan terkait kisah seorang Raja pemeluk ateis di zaman Syaikh Hammad Bin Abu Sulaiman, gurunya Abu Hanifah. Raja pemeluk atheis itu bertanya hampir kepada seluruh Ulama dizaman itu perihal keberadaan Allah Swt yang tak memiliki tempat. Tetapi tidak ada yang berhasil memberikan penjelasan yang masuk akal menurutnya. Ia menantang ulama yang tersisa untuk memastikan bahwa para ulama sekitar tidak mampu menjawab pertanyaannya tersebut.

“Masih adakah seseorang di antara ulama kalian?” tanyanya menantang

Para menteri menjawab, “Iya. Masih ada ulama yang akan menjawabkan pertanyaanmu. Beliau Syekh Hammad.”

Raja atheis menjawab: “Mintalah dia untuk menghadapku.”

Sang menteri pun mendatangi Syekh Hammad. Mereka meminta beliau untuk segera menghadap sang raja yang ateis itu. Tetapi Syaikh Hammad memahami paham akan hal tersebut. Pagi harinya, sebelum berangkat, ia menghadap Abu Hanifah, murid kesayangannya. Ketika itu usia Abu Hanifah masih muda sekali.

“Kenapa guru terlihat putus asa?” tanya Abu Hanifah.

Syekh Hammad menerangkan: “Aku diminta menghadap raja ateis yang menyebabkan para ulama tidak sanggup menjawab membuktikan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Selain itu, aku juga bermimpi aneh.”

“Mimpi apa guru semalam?” tanya Abu Hanifah.

“Aku bermimpi melihat sebuah rumah luas dan indah, didalamnya ada pohon-pohon berbuah. Lalu dari bagian rumah itu keluar seekor babi yang memakan buah, daun dan dahannya hingga habis kecuali pangkal batang pohon itu. Tak lama, dari batang itu muncullah singa, dan membunuh babi itu.”

“Guru, izinkanlah saya menafsirkan mimpi itu karena Allah memberi hidayah kepadaku.” kata Abu Hanifah.

“Silahkan wahai nu’man (nama asli abu hanifah.red). kata Syekh Hammad.

“Rumah yang luas dan penuh hiasan adalah Islam. Pohon-pohon berbuah ialah para ulama. Ujung batang yang tersisa di situ adalah guru. Babi adalah si Raja ateis itu, dan singa yang membunuhnya adalah saya. Maka berangkatlah engkau dengan membawa saya ketempat itu.”

Beliau pun mendatangi tempat perjanjiannya bersama dengan muridnya abu hanifah dan para menteri untuk menemui Raja. Raja pun mempersilakan masuk dan berkumpul di depan singgasananya. disaat itu juga para ulama lain hadir untuk menyaksikan debat yang akan terjadi.

“Mana ulama yang aku minta untuk menjawab pertanyaanku?” tantangnya

Suasana hening. Apalagi ulama lain, bahkan Syaikh Hammad sendiri pun juga belum menjawab.

Abu Hanifah menyahut: “Bertanyalah. Akulah orang yang mampu akan menjawab pertanyaanmu,”

Raja berkata: “Siapa engkau, hai anak muda? apakah engkau bermaksud berbicara denganku? Bagaimana dengan para ulama dan pembesar yang berpangkat dan berbaju mewah itu. Bagaimana mungkin engkau yang masih muda dan hina ini mampu melakukannya?”

Abu Hanifah menjawab tanpa ragu: “Allah tidak meberikan kemuliaan untuk para pembesar, atau yang berbaju mewah. Allah memberikannya untuk para ulama,”

Raja mulai naik pitam: “Jadi engkau mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku?”

Abu Hanifah mengangguk.

Raja memulai pertanyaannya: “Apakah Allah itu ada?”

“Iya”

“Di mana dia?”

“Dia tidak memiliki tempat berdiam”

“Bagaimana mungkin benda itu ada tetapi tidak memiliki tempat?”

“Buktinya ada di tubuh raja”

“Apa itu?”

“Apakah badanmu memiliki ruh?”

“Iya”

“Di mana ruhmu? Apakah di kepala, apakah di perut, atau bahkan di kakimu?”

Raja yang tidak percaya tuhan itu pun bingung. Ia tak bisa menjawab. Tetapi Abu Hanifah belum puas dengan perkataannya dan beliau kemudian meminta segelas susu untuk membuktikannya.

“Apakah susu ini memiliki lemak?”

“Iya,” jawab sang raja

“Di mana tempat lemaknya? Di atas atau di bawahnya?”

Abu Hanifah lantas menimpali, “Sebagaimana ruh tak dijumpai tempatnya, sebagaimana juga susu tak diketahui tempat lemaknya, Allah tidak memiliki tempat di alam semesta.”

Raja mulai panik dan bertanya lagi: “Lalu apa yang ada sebelum Allah dan sesudahnya?”

“Tidak ada sesuatu apapun di depan maupun di belakangnya”

“Bagaimana mungkin sesuatu tak memiliki awal dan akhir?”

“Ini dalilnya juga ada di tubuh raja”

“Apa itu?”

“Apa yang ada sebelum ibu jari dan sesudah jari kelingkingmu?”

“Tak ada apapun sebelum ibu jari dan setelah kelingkingku”

“Maka seperti itulah Allah. Tidak ada sesuatu di depan atau pun di belakangnya, sebelum maupun sesudahnya.”

“Masih ada satu pertanyaan lagi,” kata sang raja, “Apa pekerjaan Allah sekarang?”

Mendengar pertanyaan terakhir itu, Abu Hanifah berkata: “Seharusnya yang menjawab itu ada di atas singgasana, dan yang bertanya berada di bawahnya. Saya akan menjawab, seandainya kau bersedia turun.”

Raja pun turun dari singgasana mengiyakan, dan Abu Hanifah ganti menduduki singgasana sang raja. Ketika beliau di atas mimbar, raja mengulang pertanyaan tadi.

“Ayo apa pekerjaan Allah sekarang?” kata Raja.

“Pekerjaan Allah sekarang ialah menjatuhkan orang yang batil sepertimu, dari atas ke bawah. Dan Dia menaikkan orang yang benar sepertiku dari bawah ke atas.”kata Abu Hanifah tegas.

Sang raja terdiam. Tiga pertanyaan yang diajukannya tak lagi menyudutkan lawan, justru ia yang takluk di hadapan Abu hanifah muda. Dan juga ini juga membuktikan mimpi Syaikh Hammad adalah benar.


Nah sobat rohis, ada satu lagi cerita Imam hanafi tentang keberadaan tuhan, berikut kisahnya:


Suatu hari, seorang ateis (orang yang tidak percaya tuhan) menanyai Imam Hanafi, “Apakah kamu melihat Tuhanmu?”

“Maha Suci Allah, ‘Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus, Maha Teliti,’ (QS: Al-An’am: 103),”jawab Imam Hanafi.

“Apakah kamu menyentuhnya? Menciumnya? Atau merasakannya?”

“Maha Suci Allah, ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.’(QS: As-Syura:11),” jawab Imam Hanafi.

“Jika kamu tidak melihat-Nya, menyentuh-Nya, mencium-Nya, dan merasakan-Nya, bagaimana caramu membuktikan keberadaan-Nya?” tanya orang ateis tadi.

“Kamu ini benar-benar tak bisa berpikir! Apakah kamu melihat akalmu?”

“Tidak,” jawab orang ateis.

“Apakah kamu menyentuh akalmu?”

“Tidak,” jawab orang ateis itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Apakah kamu mencium akalmu?”

“Tidak,” jawab ateis.

“Apakah kamu merasakan akalmu?”

“Tidak,” kata ateis.

“Kamu berakal atau gila?”

“Berakal,” jawab ateis.

“Jika kamu benar-benar berakal, di mana akalmu?”

“Tidak tahu. Tapi dia ada,” jawab ateis.

“Demikian pula Allah SWT,” kata Imam Hanafi.


Nah sobat rohis, demikian kisah Abu Hanifah dalam perdebatannya dengan kaum ateis. Semoga dapat menambah keimanan kita kepada Allah SWT.

Wallahu ‘alamu bisshowab.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *