Cloud Hosting Indonesia Hosting Unlimited Indonesia

Kisah Nabi Muhammad SAW Teladan Bagi Umat Islam

Kisah-Nabi-Muhammad

Assalamualaikum sobat rohaniawan. Sebelum kita membaca Kisah Nabi Muhammad SAW ada baiknya kita membaca sholawat dulu sob agar berkah baginda Nabi juga tercurah kepada kita. Amiin.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihii wasallam

Sekarang mari kita simak kisah beliau.

Kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW

Manusia terpilih sebagai Nabi terakhir yang melebihi keistimewaan dari Nabi sebelumnya ialah Nabi Muhammad SAW. Beliau dilahirkan di Kota Mekkah pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awwal tahun Gajah, atau 20 April 571 Masehi. Ayahanda beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan Ibundanya bernama Aminah binti Wahab.

Sebelum lahirnya beliau, terjadi peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah, yaitu kota Mekkah diserang oleh Abrahah raja dari Yaman dengan pasukan gajah sebanyak 60.000 tentara yang berniat menghancurkan ka’bah. Akan tetapi pada saat rombongan itu tiba di sebuah lembah antara Mudzalifah dan Mina, Gajah-gajah tersebut menolak berjalan menuju Makkah. Selanjutnya datanglah gerombolan burung yang dikirimkan Allah untuk membinasakan mereka.

Burung tersebut membawa batu yang apabila dilemparkannya maka hancur seperti daun yang dimakan ulat. Hal ini diabadikan didalam Al-Qur’an surah Al-Fiil ayat 1-5. Inilah mengapa tahun kelahiran Baginda Nabi dinamakan Tahun Gajah.

Sekitar 55 hari setelah itu maka lahirlah Baginda Nabi Muhammad di tanah suci Makkah. Beliau lahir dalam keadaan yatim karena Abdullah wafat pada saat Baginda Nabi baru 3 bulan didalam kandungan Aminah. Dalam sebuah riwayat beliau dilahirkan dalam keadaan sudah berkhitan dan bercelak mata dengan posisi sujud diatas perut ibundanya.

Menurut kitab An-Ni’matul Kubra ‘Alal ‘Alam karya Syihabuddin Ahmad bin Hajar al-Haitami Asy-Syafii, yang membidani Siti Aminah secara ghaib dalam proses kelahiran Baginda Nabi adalah para wanita mulia yaitu Hawa istri Nabi Adam A.s, yang kedua adalah Siti Maryam ibunda Nabi Isa A.s, ketiga adalah Sarah istri Nabi Iberahim A.s dan keempat adalah Asiyah binti Muzahim atau selir Fir’aun.

Pada saat Baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan, banyak kejadian aneh penanda kemusyrikan akan hancur di beberapa tempat seperti padamnya api suci sesembahan orang Majusi yang tidak pernah padam sebelumnya selama ribuan tahun, rubuhnya patung berhala disekitar Ka’bah, keringnya danau dan runtuhnya beberapa bangunan yang dikultuskan orang-orang Persia, dan beberapa kejadian lainnya di berbagai negara.

Setelah baginda Nabi lahir, beliau diserahkan oleh kakek beliau Abdul Muthalib kepada Halimatus Sa’diyah seorang wanita dusun keturunan bani Sa’ad untuk disusukan. Kebiasaan orang arab pada saat itu menitipkan anaknya untuk disusui pada wanita-wanita di sebuah dusun yang masih bersih, lingkungannya alami dan bahasa arab yang belum bercampur. untuk menjaga keturunan mereka tidak terpengaruh dengan budaya luar. 

Di dusun tersebut Halimatus Sa’diyah mendapatkan berkah setelah mengasuh Baginda Nabi, mulai dari ternaknya yang menjadi gemuk dan menghasilkan susu, tanah menjadi subur, dan lain-lainnya.

Sebagai anak-anak dia sudah menunjukkan sifat dan akhlak yang mulia, dan juga juga sangat menjaga kebersihan seperti tidak mau bermain tanah dan tidak mau memakan makanan yang dihinggapi lalat. beliau disukai semua kalangan baik tua maupun sebayanya.

Hingga pada suatu hari anak-anak sedang bermain dan pada saat itu beberapa orang (malaikat) membawa baginda Nabi dan dibaringkan hingga orang tersebut “membelah dada” baginda nabi, maka berlarilah anak-anak ketakutan melaporkan kejadian itu kepada Halimatus Sa’diyah. Dengan perasaan khawatir segera Halimatus Sa’diyah mendatangi tempat tersebut dan menemukan Baginda Nabi dalam keadaan duduk terdiam.

Karena khawatir maka Halimatus Sa’diyah mengembalikan Baginda Nabi kepada keluarganya dengan perasaan berat. saat itu usia baginda Nabi sudah beranjak 5 tahun. Beliau kembali diasuh oleh Ibunda Siti Aminah. akan tetapi kemalangan tak dapat ditolak. Ibunda Baginda nabi wafat pada saat umur beliau 6 tahun.

Berdagang ke Negeri Syam

Kisah-Nabi-Muhammad
berdagang ke Negeri Syam

Kisah Nabi Muhammad selanjutnya setelah meninggalnya ibunda tercinta, beliau diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib, Baginda Nabi kembali mendapatkan kasih sayang keluarganya. Beliau membantu kakeknya mengurus ternak dan kebunnya.

Sayangnya, kasih sayang kakeknya hanya sebentar dirasakan oleh Baginda Nabi. Setelah dua tahun dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Mutholib meninggal pada umur Baginda Nabi 8 tahun.  Selanjutnya Nabi diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Abu Thalib terkenal sebagai orang yang dermawan walaupun hidupnya dalam kekurangan. Di usia 8 tahun, merupakan awal pertama kalinya mengenal dunia bisnis dengan mengembala kambing. Baginda Nabi mendapat upah dari hasil menggembalanya dari penduduk Makkah.

Pada usia 12 sampai umur 20 tahun, beliau mulai belajar berdagang bersama pamannya Abu Thalib ke Negeri Syam untuk berdagang. Sifat beliau yang jujur, amanah, dan tidak pernah menipu orang lain dengan sikap profesionalnya menjadikan semua orang menyukai cara berdagangnya dan banyak yang menjalin bisnis dengannya. Beliau menghapuskan kebiasaan riba yang merajalela, penipuan, pengurangan takaran dan kebiasaan buruk lainnya dalam berdagang dan mengajarkan cara terbaik dalam berdagang tanpa harus menipu.

Melihat hal tersebut, Baginda Nabi akhirnya mendapat kepercayaan dari pedagang besar di Makkah yakni Siti Khadijah untuk bekerja dengannya. Gaji yang diterima beliau menurut sumber lain saat itu sekitar 4 ekor unta setiap bulan.

Selain itu Siti Khadijah jatuh hati dengan Baginda Nabi karena selain ketampanannya, beliau juga sangat jujur terhadap keuntungan yang didapat dan tidak pernah rugi dalam bisnis dagangnya.

Menikah dengan Siti Khadijah

Siti Khadijah begitu tertarik dengan kepribadian baginda nabi sehingga menyuruh Nufaysah (Nufaisah) binti Muniyah yaitu seorang temannya untuk menyampaikan isi hatinya kepada baginda nabi. Dalam riwayat lain budak dari Siti Khadijah bernama Maysarah sebagai penghubungnya dengan Baginda Nabi.

Oleh baginda nabi hal tersebut merupakan isyarat dan beliau membicarakannya dengan paman beliau. kemudian beserta Abu thalib beliau melamar Siti Khadijah melalui pamannya, terjadilah kesepakatan pernikahan antara Baginda Nabi dan Siti Khadijah dengan mahar 20 unta.

Sebagai informasi 20 ekor unta apabila diuangkan untuk saat ini bisa mencapai setengah miliar apabila diasumsikan saja harga unta per ekor 25 juta rupiah.

Maka terjadilah pernikahan yang agung dan mulia yang disaksikan dari berbagai qabilah suku arab.

Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammadin Wa ‘alaa aalihi washohbihii wasallam

Berkhalwat di Gua Hira

Kisah-Nabi-Muhammad
tempat Nabi berkhalwat via id.wikipedia.org

Kisah Nabi Muhammad selanjutnya semenjak menikah dengan Siti Khadijah, beliau lebih sering menyendiri dan bertafakkur akan kebesaran Allah SWT. Beliau juga memikirkan masyarakat arab yang dilanda kemusyrikan dengan menyembah patung berhala di rumah maupun disekitar Ka’bah.

Oleh karena itu beliau memantapkan hati untuk pergi ke Gua Hira untuk berkhalwat memohon petunjuk dari Allah SWT. Gua Hira adalah gua yang terletak di atas gunung yang disebut Jabal Nur, tingginya sekitar 631 meter dari permukaan laut dan 280 meter dari permukaan tanah. Untuk berjalan mendaki sampai ke sana biasanya itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam.

Sebagai informasi gua tersebut pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk salat dua orang, sisanya untuk duduk. Jadi Baginda Nabi memilih tempat tersebut karena arah nya menghadap Ka’bah dan dikatakan ada sebuah lubang yang jika diintip akan tampak lurus menuju Ka’bah. sangat cocok untuk tempat khalwat.

Di tempat inilah beliau mendapatkan wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610  M yang dikenal dengan Nuzulul Qur’an. Pada saat itu baginda nabi didatangi oleh malaikat Jibril dan mengajarkan kepada baginda untuk membaca.

Jibril berkata: “Iqro.. ” (bacalah..)

Baginda menjawab: “Ma ana biqori” (aku tidak bisa membaca)

Jibril memeluk baginda nabi dan berkata untuk yang kedua kali: “Iqro.. ” (bacalah..)

Baginda menjawab: “Ma ana biqori” (aku tidak bisa membaca)

Jibril memeluk lebih erat dan berkata: “Iqro.. ” (bacalah..)

Setelah itu Malaikat Jibril melepaskan baginda Nabi dan membacakan surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5:

ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ.  خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ.   ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ .  ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ . عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Bergetar seluruh tubuh Baginda Nabi dan berkeringat. Sesaat setelah itu Malaikat Jibril menghilang dan Baginda Nabi bergegas untuk pulang.

Sesampai di rumah ia meminta Siti khadijah untuk menyelimutinya. Siti Khadijah pun menenangkan dan menyakinkan Nabi bahwa hal tersebut merupakan pertanda ia adalah seseorang yang istimewa dan akan diangkat menjadi Nabi. Kemudian Khadijah mengajak Baginda Nabi menemui penganut agama Nasrani, Waraqah bin Naufal, yang tidak lain adalah sepupu Siti Khadijah.

Waraqah sangat mengerti dan memahami Kitab Injil. Waraqah mengatakan pria yang ditemui Baginda Nabi di Gua Hira tidak lain adalah Namus atau Malaikat Jibril. Malaikat tersebut pernah menemui Nabi Musa AS. Wahyu yang turun pertanda bahwa Baginda Nabi resmi diangkat sebagai Utusan Allah/Rasulullah.

Memulai Berdakwah

Setelah wahyu pertama turun yaitu surah Al-Alaq ayat 1-5, maka dengan waktu yang cukup lama yang ditunggu-tunggu Rasulullah akhirnya turun wahyu kedua yaitu surah Al-Muddatsir ayat 1-7 yang intinya perintah untuk memulai berdakwah dan menyiarkan agama Islam.

Rasulullah memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan mengajak keluarga dan sahabat beliau yang sudah dekat dan bisa dipercaya.

Rasulullah melakukan dakwah ini dengan cara pendekatan peribadi. Beliau melaksanakan dakwah ini selama 3 tahun. Awalnya Nabi memperkenalkan Islam kepada orang-orang terdekat, keluarga besar serta sahabat-shahabat beliau. Mereka diajak untuk memeluk Islam. Dalam sejarah Islam, mereka dikenal sebagai As Saabiquunal Awwalluun (orang-orang yang paling dahulu dan pertama masuk Islam). Mereka ialah Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mukminin Isteri Rasulullah SAW, Zaid bin Haritsah bin Syarahil (budak beliau), Ali bin Abi Thalib (sepupu beliau) dan Abu Bakar ash-Shiddiq, sahabat terdekat.
Setelah memeluk Islam, Abu Bakar juga berdakwah mengajak sahabat dan kerabat yang lain masuk Islam. Abu Bakar terkenal sebagai tokoh terkemuka yang ditakuti oleh kafir quraisy dan juga orang yang sangat mempercayai risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Melalui beliau, beberapa sahabat yang masuk Islam yaitu Utsman bin ‘Affan, Zubair bin al-’Awam al-Asadi, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Bilal bin Rabah, Abu ‘Ubaidah, Amir bin al-Jarrah, Abu Salamah bin Abdul Asad, al-Arqam bin Abil Arqam, Utsman bin Mazh’un dan kedua saudaranya Qudamah dan ‘Abdullah, Ubaidah bin Harits, Sa’id bin Zaid dan isterinya, Fathimah binti al-Khaththab, saudara perempuan dari ‘Umar bin Khattab, Khabbab bin Arts, ‘Abdullah bin Mas’ud serta sahabat lainnya.

Dakwah Rasulullah secara sembunyi-sembunyi berakhir tatkala turun wahyu yang memerintahkan Rasul untuk menyampaikan dakwah secara terang-terangan, yaitu dakwah untuk menyiarkan agama Allah yaitu Islam yang langsung mendapat tanggapan dari para kafir quraisy karena merasa agama nenek moyang mereka dahulu dihinakan.

Begitu banyak masyarakat arab yang masuk Islam membuat kaum kafir quraisy mulai menyiksa para muallaf yang lemah agar berbalik menganut agama nenek moyang dahulu yaitu menyembah berhala. banyak yang dibunuh dan disiksa dengan berbagai siksaan yang tidak manusiawi membuat Rasulullah sedih dan berencana pindah/hijrah ke Maidinah yang lebih aman.

Wafatnya Istri dan Pamannya Baginda Nabi serta Peristiwa Isra & Mi’raj

Siti Khadijah binti Khuwailid adalah istri pertama sekaligus istri yang paling Nabi Muhammad SAW hormati dibanding istri-istrinya yang lain. Tak heran, karena Siti Khadijah adalah orang pertama yang meyakini Rasulullah dan selalu mendampingi Beliau selama berdakwah hingga akhir hayat.

Khadijah RA wafat pada hari ke-11 bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah berusia sekitar 50 tahun.

Ketika Khadijah wafat, Rasulullah amat terpukul. Apalagi hari kematian Khadijah tidak berselang lama dari kematian paman kesayangan Nabi, Abu Thalib. Oleh karena itu, masa-masa ini disebut sebagai tahun berkabung bagi Nabi Muhammad SAW atau disebut ‘Amul Hazan (Tahun kesedihan). Dalam banyak riwayat disebutkan kalau Rasulullah baru menikah lagi setelah Khadijah wafat.

Bersamaan itu pula Allah SWT tidak ingin kekasih-Nya bersedih maka Dia mengutus Malaikat Jibril untuk menghibur Baginda Nabi dengan perjalanan ke Baitul Maqdis Palestina dan dilanjutkan naik ke Sidratul Muntaha bertemu Dzatnya Allah SWT untuk menerima perintah sholat lima waktu. Peristiwa ghaib ini disebut dengan Isra & Mi’raj dan terjadi hanya dalam waktu satu malam saja.

Hijrah ke Madinah

Karena tekanan dan penyiksaan kaum kafir quraiys kepada kaum muslimin di Mekkah semakin menjadi-jadi, dan juga pelindung Rasulullah yaitu pamannya sendiri Abu Thalib telah wafat, maka Rasulullah SAW memerintahkan kepada kaum muslimin untuk segera pindah berhijrah ke kota Mekkah, semua kaum muslimin baik sembunyi-sembunyi dan ada juga yang terang-terangan hijrah meninggalkan tanah Mekkah dan meninggalkan harta dan ternak mereka. Yang dibawa hanyalah perbekalan secukupnya dan iman yang kuat kepada Allah Ta’ala.

Yang terakhir meninggalkan Mekkah hanyalah Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib. Kedua sahabat ini tinggal atas perintah Rasulullah kepada mereka. Sahabat Abu Bakar menyiapkan bekalnya dan bekal Rasulullah SAW sambil menunggu Allah SWT mengizinkan rasulNya berhijrah.

Mendengar kaum muslimin berbondong-bondong meninggalkan Mekkah membuat kaum kafir quraisy sangat marah. Mereka berunding dan dan sepakat untuk mengumpulkan para pemuda tangguh untuk membunuh Rasulullah ditengah malam di rumahnya.

Dan setelah tiba malam hari, mereka mengendap menjaga pintu dan sekeliling rumah Rasulullah. Jika Rasulullah keluar langsung dibunuh. Rasulullah sudah mengetahui hal tersebut dan menyuruh Ali menggantikan dirinya di tempat tidur.

Pada saat Rasulullah SAW melewati mereka, Allah SWT menolong kekasih-Nya. Semua penjaga tersebut tertidur. Bahkan dalam sebuah riwayat Iblis pun ketiduran sehingga tidak melihat Rasululah keluar rumah. Tidak seorang pun dari mereka yang melihat beliau. Dengan langkah aman beliau pergi ke rumah Abu Bakar.

Jika kalian tidak menolong Muhammad, maka sungguh Allah telah menolongnya. [Yaitu] ketika orang-orang kafir [musyrikin Mekkah] mengusirnya sedang ia salah satu dari dua orang. Ketika keduanya berada di dalam gua, di waktu ia berkata kepada temannya, ‘Jangan engkau sedih. Sesungguhnya Allah bersama kita’. Maka, Allah pun menurunkan ketenangan kepadanya dan menolongnya dengan tentara yang engkau tidak melihatnya. Al Qur-an menjadikan orang-orang kafir rendah dan kalimat Allah-lah yang tinggi. Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (QS. At Taubah: 40).

Selanjutnya setelah perbekalan siap mereka menyelinap keluar melalui pintu kecil yang ada di rumah Abu Bakar pada malam hari. Abu Bakar sendiri telah menyewa Abdullah bin Uraiqith. Dia yang akan menjadi pemandu lewat jalan pintas menuju Madinah.

Rasulullah dan Abu Bakar mempercayainya untuk tugas tersebut walaupun Abdullah bin Uraiqith masih memeluk agama kaumnya. Rasulullah dan Abu Bakar pun menyerahkan kepadanya tunggangan-tunggangan mereka dan berjanji menemuinya di Gua Tsur setelah tiga hari kemudian.

Setelah agak subuh para penjaga terjaga dan membuka paksa pintu rumah Rasulullah serta menggeledah isi rumahnya. masuk ketempat tidur dan membuka selimut, akan tetapi yang didapati adalah Ali bin Abi thalib, mereka pun kecewa dan merencanakan mengejar Rasulullah. Mereka menghadiahi 100 ekor unta bagi siapapun yang berhasil menangkap Rasulullah.

Kaum kafir quraisy datang ke bukit Tsur dan sekitarnya mencari Rasulullah dan Abu Bakar. Sampai-sampai, mereka lewat di depan pintu gua dan begitu dekat dengan Rasulullah dan Abu Bakar. Namun, Allah SWT butakan mereka dari pintu gua itu. Dalam sebuah riwayat laba-laba bersarang di pintu gua dan dua ekor merpati betina bersarang di muka pintu. Yang artinya tidak ada seorangpun yang masuk kedalam goa tersebut.

Berselang tiga hari, Abdullah bin Uraiqith datang dengan dua hewan tunggangan. Mereka pun segera mengendarainya menuju Yatsrib Madinah dengan jalan yang jarang dilalui oleh orang.

Ketika Rasulullah dan Abu Bakar sampai di kampung Bani Mudlij, Suraqah bin Malik melihat mereka. Ia pun segera mengejar mereka dengan kudanya. Ketika sudah dekat dengan rombongan Rasulullah suraqah berkali-kali terjatuh. Kudanya terjerembab dan susah berlari. Mengalami hal tersebut Suraqah yakin ada sesuatu yang tidak diketahuinya yang menolong Rasulullah dan ia pun meminta Rasulullah untuk mendoakannya. Suraqah berjanji untuk menolong Rasulullah dan menghalang-halangi orang yang ingin mengejarnya.

Singkat cerita setelah beberapa hari diperjalanan yang berbahaya dan panas gurun pasir sampailah Rasulullah di Yatsrib Madinah dan disambut dengan penuh suka cita oleh kaum Anshor para penduduk Madinah.

Dakwah Rasulullah di Madinah

Kisah Nabi Muhammad selanjutnya yaitu tentang dakwah di Kota Madinah. Hijrah mengakhiri periode Mekkah dan mengawali periode Madinah, disini Rasulullah banyak memberikan pandangan baru baik dibidang agama, politik dan pendidikan. Usaha pertama Rasulullah setelah dimadinah adalah memepersaudarakan Kaum Muhajirin dan kaum Anshor. kaum Muhajirin yaitu kaum muslim penduduk Makkah yang baru hijrah, sedangkan kaum Anshor merupakan penduduk pribumi yang tinggal di Madinah. persaudaraan ini memberikan kekuatan kepada kaum muslimin untuk bersatu dan menghargai sesama umat, saling menyayangi dan saling tolong menolong.

Setelah memepersaudarakan Kaum Muhajirin dan kaum Anshor, langkah kedua Rasulullah adalah  membangun masjid. Masjid Nabawi merupakan masjid kedua yang dibangun Rasulullah setelah Masjid Quba yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan menjadi tempat umat Islam untuk menyempurnakan rukun haji. fungsi masjid Nabawi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai sarana pendidikan, silaturrahmi, dan tempat musyawarah bagi umat muslim Madinah untuk memutuskan suatu masalah.

Kisah-Nabi-Muhammad
Masjid Nabawi via pixabay.com

Langkah ketiga Rasulullah yaitu membuat perjanjian antara penduduk muslim dan non muslim. Pada waktu Rasulullah SAW menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi yaitu Bani Qainuqa, Bani Nazir, dan Bani Quraizah, dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam.

Oleh karena itu untuk memberikan keamanan kepada kedua belah pihak maka Rasulullah memberikan peraturan sebagai berikut:

  1. Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin Kota Madinah, segala permasalahan menyangkut masyarakat harus diserahkan dan diadili oleh Rasulullah.
  2. Penduduk Madinah bebas melaksanakan ibadah sesuai keyakinan masing-masing dan mendapat jaminan kebebasan beragama.
  3. Apabila Madinah diserang, masyarakat wajib saling membantu tanpa melihat sudut pandang agama.

Penduduk Madinah mayoritas sudah mengenal agama Islam, sehingga jiwa masyarakat Islam sudah terbentuk, dengan datangnya Rasulullah, maka penduduk Madinah dengan suka cita berikrar dihadapan Rasulullah dan berjanji akan berjuang menegakkan Islam sebagai agama tauhid. Maka terwujudlah pemerintahan Islam yang dipimpin Rasulullah SAW. Jadi Rasulullahselain sebagai seorang nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang kepala Negara.

Sebagai pemimpin, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar bagi sistem politik Islam, yakni musyawarah. Melalui musyawarah, umat Islam dapat memengangkat wakil-wakil dan kepala pemerintahan, serta membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dengan syarat, peraturan-peraturan itu tidak menyimpang dari tuntunan Al-Quran dan Hadis.

Perang Melawan Kafir Quraisy

Seakan tidak puas apabila Rasulullah belum mati, kaum kafir quraisy dengan semua pembesarnya melakukan persiapan untuk mengumpulkan bala tentara untuk memulai peperangan dengan Rasulullah. Pasukan disiapkan seribu orang yang sudah terlatih. dengan perlengkapan perang yang cukup mereka bergerak dari kota Mekkah menuju Madinah.

Rasulullah menerima petunjuk dari Allah bahwa mereka boleh melawan kebathilan dan Rasulullah pun menyiapkan pasukannya. jumlahnya kecil yaitu 300 orang saja dengan perlengkapan perang yang tidak memadai akan tetapi dengan jiwa yang siap mati syahid menjunjung perintah Allah dan Rasul-Nya.

Pertemuan antara dua pasukan ini terjadi di Badar, sebuah sumur kecil tempat para pedagang singgah. oleh karena itu perang ini dinamakan perang Badar. Dalam peperangan ini pasukan Islam yang kecil 300 orang dapat mengalahkan pasukan besar 1000 orang dengan kekalahan telak.

Oleh karena kekalahan tersebut kaum kafir quraisy bertekad untuk membalas kekalahan mereka. Pada tahun ke-3 hijrah Mereka kembali menyiapkan pasukan sebanyak 3200 orang yang terbagi dalam 3000 pasukan unta dan 200 pasukan berkuda, mereka sudah siap dan haus akan kemenangan. mereka sangat terpukul dalam kekalahan di perang badar. dengan 3200 pasukan mereka bergerak menuju Madinah.

Mendapat berita itu Rasulullah juga menyiapkan pasukan kurang lebih 1000 orang yang siap tempur dan bersiap bergerak keluar kota madinah. akan tetapi Abdullah bin Ubay yang licik membelot dan menyebabkan orang-orang Yahudi kembali ke Madinah sehingga tertinggal 700 orang pasukan. akan tetapi Rasulullah tetap bergerak menuju arena peperangan. Perang ini dinamakan Perang Uhud karena terjadinya disekitar bukit Uhud.

Peperangan tidak seimbang pun terjadi. Awalnya rasulullah mendapat kemenangan dengan menempatkan para pemanah ulung diatas bukit uhud. sehingga pasukan musuh kewalahan dan dapat memukul mundur pasukan Kafir Quraisy yang dipimpin Khalid bin walid. Rasulullah mewanti-wanti agar mereka tetap siap siaga diatas dan tidak turun kebawah sebelum peperangan selesai.

Bencana dimulai ketika satu persatu para pemanah turun karena tergiur harta rampasan perang yang banyak. padahal perang belum usai. kesempatan itu tidak disia-siakan khalid bin walid dan mereka pun bergerak menyergap dari belakang. Pasukan yang dipimpin Rasulullah porak poranda dan banyak yang syahid sampai Rasulullah pun terkena serangan musuh. Kemenangan pun berada di pihak pasukan Kafir Quraisy.

Banyak sahabat nabi penghafal Al-Qur’an yang gugur di perang Uhud ini. Kekalahan yang diterima kaum muslimin memberikan kesedihan yang mendalam bagi penduduk Madinah dan Rasulullah sendiri. Dengan ini pun Rasulullah mengambil tindakan tegas kepada Abdullah bin Ubay yang membelot bersama 300 orang yahudi yang diketahui berasal dari Bani Nadir. Mereka diusir keluar dari Madinah.

Tetapi hal tersebut membawa petaka karena orang yang diusir keluar dari Madinah malahbergabung dengan pasukan Kafir Quraiys dan mulai membangun kekuatan untuk melenyapkan Madinah dan penduduknya. Sekitar tahun ke-5 Hijriyah pasukan Kafir Quraiys menghimpun pasukan dengan jumlah yang amat besar yaitu mencapai 24.000 orang. mereka bersiap dan mulai bergerak menyerang Madinah.

Rasulullah khawatir dengan keadaan tersebut. Beliau mengadakan musyawarah dengan para sahabat. atas ide brilian Salman Al Farisi beliau mengusulkan untuk membuat khandak (parit) yang dalam yang tidak bisa dilalui oleh binatang seperti kuda dan unta. atas usul tersebut sahabat menerima dengan baik dan Rasulullah pun memberi perintah kepada penduduk Madinah untuk membuat parit yang dalam di sekeliling kota Madinah. mereka pun bergotong royong menggali parit sesuai yang dikehendaki Rasulullah.

Perang ini terkenal dengan sebutan Perang Khandak atau disebut juga dengan perang Ahzab (gabungan suku bangsa arab). Setelah pasukan musuh datang dengan ribuan pasukan dari jauh sudah berteriak sombong seakan kemenangan sudah didepan mata. Setelah mendekat apa dikata, ada parit yang lebar dan dalam menghadang mereka. sungguh diluar dugaan pasukan kafir quraiys. Mereka berupaya menyeberang tetapi kuda-kuda mereka terjatuh dan terluka. Mereka tidak kehabisan akal, mereka mendirikan tenda-tenda di luar parit.

Selama sebulan mereka mengepung tetapi tidak menghasilkan apa-apa. pada akhirnya datang badai yang memporak-porandakan tenda-tenda mereka. Mereka pun pulang dengan kekalahan karena kehabisan perbekalan dan bahan makanan.

Rasulullah sangat senang karena perang kali ini tidak menimbulkan korban jiwa bagi penduduk Madinah.

Fathul Mekkah

Kisah nabi Muhammad SAW selanjutnya yaitu pada tahun ke-6 Hijriyyah ketika ibadah haji sudah disyariatkan, Rasulullah memimpin sekitar seribu kaum Muslimin berangkat ke Makkah,bukan untuk berperang, melainkan untuk melakukan ibadah Umrah. Karena itu, mereka mengenakan pakaian ihram tanpa membawa senjata. Sebelum tiba di Makkah, mereka berkemah di Hubaidiyah, beberapa kilometer dari Makkah. Penduduk Makkah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara lain:

  1. Kaum Muslimin belum boleh mengunjungi Ka’bah tahun ini tetapi ditangguhkan sampai tahun depan,
  2. Kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja,
  3. Kaum Muslimin wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melarikan diri ke Madinah, sedang sebaliknya, pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Makkah,
  4. Selama sepuluh tahun diberlakukan gencatan senjata antara masyarakat Madinah dan Makkah, dan
  5. Tiap Kabilah yang ingin masuk kedalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum Muslimin,bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan.

Kesediaan orang-orang Makkah untuk berunding dan membuat perjanjian dengan kaum Muslimin itu benar-benar nerupakan kemenangan diplomatik yang besar bagi umat Islam. Dengan perjanjian ini, harapan untuk mengambila alih Ka’bah dan menguasai Ka’bah sudah semakin terbuka. Nabi memang sudah sejak lama berusaha merebut dan menguasai Makkah agar dapat menyiarkan Islam kedaerah-daerah lain. Ini merupakan target utama beliau.

Ada dua faktor pokok yang mendorong kebijaksanaan ini: pertama, Makkah adalah pusat keagamaan bangsa Arab dan melalui konsilidasi bangsa Arab dalam Islam, Islam bisa tersebar keluar. Kedua, apabila suku nabi sendiri dapat diislamkan, Islam akan memperoleh dukungan yang kuat karena orang-orang Quraisy mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar. Setahun kemudian, ibadah haji ditunaikan sesuai rencana. Banyak orang Quraisy yang masuk Islam setelah menyaksikan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh masyarakat Islam Madinah.

Selama dua tahun perjanjian Hudaibiyah berlangsung, dakwah Islam sudah menjangkau seluruh jazirah Arab, termasuk suku-suku paling selatan, menggabungkan diri dalam Islam. Hal ini membuat orang-orang Makkah merasa terpojok. Perjanjian Hudaibiyah ternyata menjadi senjata bagi umat Islam untuk memperkuat dirinya. Oleh karena itu secara sepihak orang-orang kafir Quraisy membatalkan perjanjian tersebut.

Melihat kenyataan ini, Rasulullah segera bertolak ke Makkah dengan sepuluh ribu orang tentara untuk melawan mereka. Nabi Muhammad tidak mengalami kesukaran apa-apa dan memasuki kota Makkah tanpa perlawanan. Beliau tampil sebagai pemenang. Patung-patung berhala diseluruh negri dihancurkan. Peristiwa ini dikenal dengan nama Fathul Mekkah yang artinya pembebasan kota Mekkah dari Kafir Quraisy. Setelah itu, nabi berkhotbah menjanjikan ampunan Tuhan terhadap kafir Quraisy. Sesudah khotbah disampaikan, mereka dating berbondong-bondong memeluk agama Islam. Sejak itu, Makkah berada dibawah kekuasaan Rasulullah.

Haji Wada’ (Perpisahan)

Dalam kesempatan ibadah haji yang terakhir, haji wada’ tahun 10 Hijriah (631 M), Nabi Muhammad SAW menyampaikan khotbahnya yang sangat bersejarah. Isi khotbah itu antara lain:

  1. Larangan menumpahkan darah kecuali dengan yang hak dan larangan mengambil harta orang lain dengan yang batil, karena nyawa dan harta benda adalah suci; larangan riba dan larangan menganiaya;
  2. Perintah untuk memperlakukan istri dengan baik dan lemah lembut serta menjauhi dosa;
  3. Semua pertengkaran antara mereka di zaman jahiliah harus saling memaafkan;
  4. Balas dendam dengan tebusa darah sebagaimana opada zaman jahiliah harus dihapuskan;
  5. Umat Islam harus selalu berpegang teguh pada Al qur’an dan Sunah Nabi.

Isi khotbah ini merupakan prinsip-prinsip yang mendasari gerakan Islam. Setelah itu beliau kembali ke Madinah. Beliau mengatur organisasi masyarakat kabilah yang telah memeluk Islam. Petugas keamanan dan para da’i di kirim keberbagai daerah dan kabilah untuk mengajarkan Islam, mengatur peradilan dan memungut zakat.

Dua bulan setelah itu, Rasulullah menderita sakit demam. Keadaannya sangat lemah dan sampai-sampai tidak bisa mengimami sholat di masjid. Rasulullah menyampaikan wahyu terakhir yaitu Surah Al-Maidah ayat 3. Umat muslim bersedih karena hal tersebut pertanda bahwa agama Islam sudah sempurna dan Rasulullah akan wafat. Pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 11 H/ 8 Juni 632 Nabi Muhammad Saw wafat di rumah istrinya Aisyah.

Kisah-Nabi-Muhammad
Makam Nabi Muhammad via News.detik.com

Demikian kisah nabi Muhammad SAW yang disajikan secara singkat. Semoga dapat menjadi teladan dan panutan untuk kita semua. dan Kita berharap semoga kita mendapat syafaat beliau di padang mahsyar nanti. Amiin…


Sumber bacaan tentang fathul Makkah dan Haji Wada: https://perpustakaansman112.sch.id/2019/07/10/dakwah-rasulullah-periode-madinah/

Baca juga: Kisah Nabi Musa A.s belajar dengan Nabi Khidir A.s

Tentang Penulis

Khamsul khair

Terima kasih telah mengunjungi blog sederhana ini. Semoga berkah dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *