kisah-Nabi-Musa-dan-Nabi-Khidir

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir (Diatas Langit Masih Ada Langit)

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir bertemu atas perintah Allah SWT dijabarkan dengan jelas didalam Al-Qur’an surah Al-Kahfi ayat 69 sampai ayat 82.

Suatu ketika Nabi Musa A.s bertemu dengan umatnya dan berbicara dihadapan umatnya, beliau berkata:

“Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?”

Lantas beliau sendiri menjawab: “Akulah orang yang paling banyak ilmunya…”

Lalu Allah SWT memberikan pengajaran dengan Nabi Musa A.s dengan memberi perintah untuk menemui seseorang untuk berguru dan belajar lebih banyak mengenai ilmu.

Mendapat perintah tersebut Nabi Musa A.s patuh dan taat sehingga langsung berangkat menuju orang yang dimaksud.

Orang yang ditemui oleh Nabi Musa A.S bernama Nabi khidir A.s.

Nabi Khidir bernama asli Balya bin Malkan bin Falikh bin Anbar bin Salakh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh A.s bin Lumakh bin Mutawasylikh bin Idris A.s bin Yard bin Mahlail bin Qainan bin Yanasy bin Syits bin Adam A.s. Kadang dipanggil dengan sebutan Abul Abbas tetapi beliau lebih dikenal dengan nama Nabi Khidir A.s.

Setelah bertemu, Nabi Musa A.s meminta kepada Nabi Khidir A.s. untuk mengajarinya mengenai ilmu,Nabi Khidir A.s. menyetujuinya tetapi dengan satu syarat.

Beliau berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”

Nabi Musa berjanji bahwa apapun yang akan dipelajari ia tidak akan protes atau mengeluh dan tetap bersabar. Maka dimulailah pengajaran tingkat tinggi seorang Nabi yang mengajari Nabi yang lain atas kehendak Allah SWT. Mereka pun mulai berjalan sesuai dengan kehendak sang guru.

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Nabi Khidir melobanginya. Nabi Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya? Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.”

kisah-nabi-musa-A.s-belajar-dengan-nabi-khidir-A.s
Kisah Nabi Musa Belajar dengan Nabi Khidir

Nabi Khidir A.s menjawab: “Bukankah aku telah berkata, sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku.”

Nabi Musa A.s pun menyadarinya dan berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku.”

Nabi Khidir A.s. dan Nabi Musa A.s memulai kembali perjalanan tersebut.

Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan anak-anak yang sedang bermain. Nabi Khidir A.s. menemui salah satu anak dan membunuhnya.

Terkejut melihat hal tersebut Nabi Musa pun langsung bertanya: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih? Bukan karena dia membunuh orang lain? sesungguhnya kamu telah melakukan perbuatan yang munkar.”

Menanggapi hal tersebut Nabi Khidir A.s. menjawab: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku.”

Kembali Nabi Musa menyadari atas perjanjiannya dan berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku.”

Dan merekapun kembali melanjutkan perjalanan. Hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Nabi Khidir menegakkan dinding itu.

Nabi Musa A.s berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.”

Mendengar hal tersebut Nabi Khidir A.s berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu, kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Maka Nabi Khidir A.s pun mulai menjelaskan pembelajaran kasyaf yang dinilai janggal oleh Nabi Musa A.s

Pertama mengapa ia melubangi kapal/bahtera yang mereka tumpangi tersebut karena didalam penglihatan mata bathin yang di anugerahkan Allah SWT kepadanya kapal itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan beliau bertujuan merusakkan kapal itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap kapal.

Yang kedua Nabi Khidir A.s menjelaskan mengapa ia membunuh anak kecil yang sedang bermain tersebut karena beliau khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan beliau menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). Hal tersebut semata karena perintah Allah SWT juga.

Yang ketiga mengenai dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhan menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.

Nabi khidir berkata: “Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Itulah rahasia yang dijabarkan oleh Nabi Khidir A.s kepada Nabi Musa A.s yang menurutnya Musa tidak akan sanggup bersabar dalam menghadapinya.

Pada akhirnya Nabi Musa A.s menyadari bahwa diatas langit masih ada langit, orang yang berilmu maka diatasnya masih ada orang yang lebih banyak ilmunya, dan sesungguhnya kesombongan itu hanyalah hak mutlak Allah SWT semata.

Hikmah yang dapat kita ambil dari pelajaran diatas adalah:

  1. Allah SWT memberikan karunia bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Bahkan seorang Nabi Musa As yang seorang Rasul pun tidak diberikan Allah ilmu mengenai kasyaf (penglihatan masa depan yang diberikan Allah kepada orang tertentu). Hanya Allah yang Maha Mengetahui Segalanya.
  2. Janganlah berburuk sangka kepada makhluk, karena kita tidak mengetahui hakikat sebenarnya. Allah menciptakan sesuatu pasti Allah memiliki rencana sendiri diluar akal pikiran manusia.

Demikian kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir yang tercantum didalam Al-Qur’an. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang disampaikan Al-Qur’an kepada kita.

Wallahu ‘alam bis showab.

Baca juga: Hadits tentang sedekah dan manfaatnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *