Sakaratul Maut, Ini Ciri-cirinya dan 8 Cara Menghadapinya

sakaratul-maut
Assalamu’alaikum sobat. Kali ini kita membahas mengenai sakaratul maut dan apa yang harus kita lakukan apabila menemui orang yang sedang sekarat.

Pernahkan sobat menemukan orang yang sedang sekarat?

Bingung apa yang harus dilakukan?

Nah, disini kami akan menjelaskan bagaimana langkah-langkah yang harus sobat lakukan ketika menghadapi orang yang sakaratul maut sampai kepada kematiannya.

Bagaimana sih sebenarnya proses sakaratul maut?

Berdasarkan pengalaman kami menghadapi orang yang akan meninggal dunia. Sakaratul maut ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

  • Penurunan kesadaran yang cepat (sebagian orang ada yang disertai kejang).
  • Tarikan nafas yang melambat berjarak hampir tiga sampai empat detik.
  • Bagian kaki biasanya menjadi dingin.
  • Wajah dan tubuh menjadi pucat dan bisa juga berwarna kekuningan.

Sebagaimana dikatakan beberapa riwayat, orang yang meninggal dalam keadaan baik maka biasanya ditemukan ciri-ciri saat sekarat ia bisa membaca zikir atau membaca kalimat tauhid sampai menemui ajalnya, mayatnya meneteskan air mata dan wajah menjadi bersih kekuning-kuningan, bahkan ada yang tersenyum.

Tetapi apabila meninggal dalam keadaan tidak baik maka biasanya saat sekarat berteriak-teriak tidak jelas, meronta-ronta dan kejang seperti kesakitan, dan mulut berbusa. tetapi hal ini tidak dapat dijadikan patokan karena baik tidaknya Allah SWT yang Maha Tahu segala perbuatannya di dunia.

Kalau melihat proses sakaratul maut tersebut sobat jangan bingung. berikut 8 hal yang harus dilakukan ketika menghadapi orang yang sakaratul maut & setelah meninggalnya :

1. Membaringkannya telentang dengan ujung kaki kearah qiblat. Kepala ditinggikan supaya wajahnya juga mengarah qiblat.

Ini merupakan sunnah yang sudah sering dilakukan oleh Ulama-ulama terdahulu. karena ketika kita sholat kita pun disuruh menghadap qiblat, maka ketika mati pun kita dihadapkan kearah kiblat.

2. Menuntun bacaan “ LAA ILAAHA ILLALLAAH”.

Bacakan kalimat tersebut pelan dan perlahan ditelinganya yang kanan. Bila ada tanda-tanda mengikuti bacaan tersebut maka jangan diulangi lagi kecuali ia berkata-kata dengan kalimat lain.

3. Membacakan surah yasin dan surah didalam Al-Qur’an yang lainnya.

Bacakan surah Yasin didekatnya. Agar memudahkan keluarnya roh dan menghilangkan rasa dahaganya, karena Rasulullah pernah menyampaikan bahwa orang yang sedang sekarat andaikan diminumkan satu lautan belum hilang rasa haus dahaganya tersebut. bagi sobat yang kurang lancar membaca Al-Quran nya tidak masalah. bacalah sebisanya atau kalau sulit maka bacalah surah lainnya yang hafal.

4. Pejamkan kedua matanya.

Bila sudah meninggal dunia. Guru kami mengajarkan agar ditutup/dipejamkan kedua matanya dengan membaca:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْلِ…(فلان ابن فلان) وَارْفَعْ دَرَجَـتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ وَافْسِحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِيْبِهِ.

Allahummaghfirli.. (sebut namanya) warfa’ darajatahu fil mahdiyyin wafsah lahu fii qobrihii wa nawwir lahu fihi wakhluf fii ‘aqiibihi.

Untuk mayit perempuan maka setiap kata”hu” di ujung bacaan dirubah menjadi “Ha”.

Nah sob, ketika orang yang sakaratul maut tersebut sudah menghembuskan nafas yang terakhir atau sudah meninggal dunia maka dilanjutnya dengan hal-hal berikut ini:

5. Selubungi/tutupi seluruh badannya dengan kain.

Ini fungsinya agar mayat tidak terlihat auratnya maupun hal-hal yang tidak boleh dilihat oleh orang banyak atau pengunjung yang akan melayat.

6. Dengan tetangga sekitar musyawarah untuk menyegerakan penyelenggaraan jenazahnya.

Hendaklah kita sebagai makhluk sosial mengajak tetangga dekat untuk musyawarah dalam penyelenggaraannya, walaupun di komplek yang biasanya acuh tak acuh bagaimana kondisi tetangga yang lain.

Hal yang perlu dibicarakan yaitu siapa yang memandikan, apa saja keperluan mayat untuk pengkafanan, dimana mensholatkan, dimana dikuburkan dan berapa dana yang diperlukan untuk seluruhnya.

7. Segera melunasi hutangnya.

Setelah menghabarkan kematiannya kepada kerabat, sanak famili dan warga yang lain serta segera melunasi hutangnya kalau ia ada meninggalkan hutang.

Sebagaimana Rasulullah SAW tidak mau mensholatkan mayat yang masih memiliki utang.

Apabila utangnya terlalu besar maka untuk sementara dialihkan kepada ahli waris yang bersedia untuk bertanggung jawab terhadap utang-utangnya.

8. Jangan meratapi kematiannya.

Perasaan sedih tentunya wajar apabila ditinggal orang yang disayangi tetapi tidak berlebihan seperti berteriak-teriak, menangis sejadi-jadinya atau merobek-robek baju. Hal tersebut dilarang Rasulullah SAW. 

Demikian 8 hal yang harus dilakukan ketika menghadapi orang yang sakaratul maut & setelah meninggalnya. Untuk selanjutnya akan dibahas bagaimana tahapan memandikan, mengkafani, mensholatkan dan menguburkan mayat tersebut.

Semoga kita meninggalkan dunia ini dengan keadaan khusnul khatimah. amin ya rabbal ‘alamin.

bila ada sesuatu yang ingin ditanyakan boleh didiskusikan di kolom komentar.

 

Tentang Penulis

Khamsul khair

Terima kasih telah mengunjungi blog sederhana ini. Semoga berkah dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *