Cloud Hosting Indonesia Hosting Unlimited Indonesia

Sejarah Maulid Nabi, Bolehkah Merayakannya atau Tidak?

Sejarah-maulid-nabi

Assalamu’alaikum sobat rohaniawan. Bagaimana kabarnya? semoga selalu sehat, baik dan mendapat rezeki yang berlimpah. Nah sobat sekalian, Kali ini kita akan membahas mengenai sejarah maulid nabi yang setiap tahun oleh kita orang Indonesia merayakannya dengan beragam tradisi.

Baginda Nabi Muhammad SAW dilahirkan menurut pendapat yang kuat yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 22 April 571 Masehi. Perayaan maulid Nabi Muhammad SAW sering dilaksanakan setiap bulan Rabiul awal oleh seluruh umat Islam saat ini dan puncaknya pada tanggal 12 rabiul awal yang juga menjadi tanggal merah untuk acara keagamaan di Indonesia.

Dalam beberapa riwayat, dari Jalaluddin As-Syuthi menjelaskan bahwa sejarah Maulid Nabi pertama kali dilakukan oleh Malik Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi (549 – 630 H). Ada juga riwayat lain yang berpendapat Maulid Nabi pertama kali dilakukan di zaman Dinasti Ayyubiah atas perintah Sulthan Salahuddin Al-Ayyubi (1138 – 1193) yaitu pemimpin sekaligus panglima perang umat Islam melawan tentara Salib. Beliau melihat semangat umat Islam kala itu melemah dan terjadi perpecahan sehingga untuk mengembalikan semangat juang kaum Muslimin beliau memerintahkan untuk menyemarakkan syiar nabi dengan syair-syair maulidnya Nabi. Dengan itu umat Islam kembali mengingat masa-masa perjuangan Nabi dan menggelorakan semangat mereka.

Sebelum itu, yang memprakarsai tentang Maulid adalah Dari Dinasti Fathimiyyah yaitu Khalifah Muiz keturunan Ubaidillah tahun 362 H sebelum dikuasai oleh Sultan Salahuddin. Dinasti Fathimiyyah memiliki banyak perayaan seperti Maulid Nabi, Maulid Ali Bin Abi Thalib yang erat kaitannya dengan aliran Syiah, Maulid Fatimah Az-Zahra, bahkan maulid Khalifah mereka kala itu. Setelah Dinasti Fathimiyyah runtuh, maka kebiasaan yang agak melenceng dari ajaran Islam tersebut dihapuskan oleh Sulthan Salahuddin al-Ayyubi yang berpegang pada sunnah dan digantikan dengan Maulid Nabi yang berisi sholawat-sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari situlah Maulid Nabi juga diperingati sampai sekarang ini.

Isi dari acara Maulid Nabi adalah:

  1. Berkumpul untuk membaca sholawat kepada Nabi bersama-sama.
  2. Adanya alat musik terbang/rebana yang dimainkan ketika syair dilantunkan.
  3. Mendengarkan tausyiah dari ustadz yang umumnya tentang sejarah mengenang perjuangan Nabi.
  4. Makan bersama dan silaturrahmi.

Tidak ada memang dalil yang secara langsung menerangkan tentang acara maulid nabi, semuanya berpatokan kepada surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Q. S. Al Ahzab: 56).

Untuk menjawab boleh atau tidaknya acara tersebut maka kita jawab satu persatu isi dari maulid tersebut.

  1. Berkumpul untuk membaca sholawat kepada Nabi bersama-sama, bolehkah? Boleh. Tidak ada larangan untuk membaca sholawat berkumpul dengan banyak orang maupun sendirian.
  2. Adanya alat musik terbang/rebana yang dimainkan ketika syair dilantunkan, bolehkah? Boleh. karena alat musik yang boleh dimainkan hanya terbang, yang pada saat itu digunakan oleh kaum anshor untuk menyambut Baginda Nabi ketika datang ke tanah Yatsrib Madinah. Selain alat musik terbang dilarang menurut pendapat Mazhab Syafi’i.
  3. Mendengarkan tausyiah dari ustadz tentang sejarah Nabi, bolehkah? Boleh dan sangat bagus untuk menambah ilmu dan wawasan keislaman.
  4. Makan bersama dan silaturrahmi, bolehkah? Boleh bahkan itu merupakan anjuran Nabi yang dalilnya tidak diragukan lagi.

Nah dari sini dapat kita simpulkan bahwa perayaan Maulid Nabi tidak ada isinya yang terlarang atau haram. Mereka yang mempermasalahkan hal itu karena Nabi tidak pernah menyuruh. Tetapi perlu diingat Hadits nabi berikut Dari Abu Qotadah Al Anshori r.a. Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162).

Hadits tersebut artinya Nabi merayakan kelahirannya dengan puasa hari senin, yang artinya beliau bersyukur dilahirkan untuk umatnya. Sedangkan kita merayakan kelahiran beliau dengan mensyukuri kelahiran baginda Nabi yang membawa agama Islam untuk kita dengan membaca sholawat bersama-sama. Jadi tidak ada larangan merayakan kelahiran beliau bagi umatnya.

Adapun perkara yang dilarang mearayakan maulid itu seperti:

  1. Bercampur antara laki-laki dan perempuan, apalagi tidak menutup aurat.
  2. Berlebih-lebihan. Karena Rasulullah sendiri tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan.
  3. Memakai alat musik diluar yang disyariatkan Islam.
  4. Tausiah mengarah kepada kemungkaran.
  5. makanan dan minuman yang dihidangkan mengandung hal yang haram.

Demikian sob penjelasan mengenai sejarah maulid nabi, Jadi sebagai kesimpulannya bahwa tidak ada larangan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk kesyukuran lahirnya Baginda Nabi. Asalkan tidak melenceng dari hal-hal yang telah disebutkan diatas.

Semoga bermanfaat dan dapat mencerahkan.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Baca juga: Ingin Rezeki Tak Terduga, Amalkan 6 ajaran Rasulullah ini

 

Tentang Penulis

Khamsul khair

Terima kasih telah mengunjungi blog sederhana ini. Semoga berkah dan bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *